Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Resensi Novel "Cau Bau Kan"

Judul buku : Cau Bau Kan

Penulis : Remy Sylado

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, 1999

Cetakan : III

Tebal : 414 halaman


SOSOK Tan Peng Liang beberapa hari ini amat lekat menggelantung di pikiran. Kadang kutemukan dia, dengan baju longgarnya, duduk di mejamakan rumahku, angkat kaki sambil membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi dengan tusuk gigi, kemudian bersendawa.


Atau pada satu waktu aku saksikan dia selonjor di ruangtamu, menaikkan kacamatanya ke jidat (padahal dia tak berkacamata), dan memelototi koran Harian Indonesia. Dibolak-balik dengan ngasal lembar demi lembarnya. Aksara Mandarin di dalamnya lenyap dikunyahnya dengan rakus. Tak ketinggalan, sebagai properti, kaos oblong putih yang tipis, berduet dengan celana superpendek, membungkus badan yang dipangku oleh kursimalas dari plastik yang dililiti tali bergulung-gulung. Di kolong kursi itu, sebuah cuntang nongkrong. Di balik tutup warna merah itu ada teh melati.

Belum pensiun imajinasiku. Karena pada waktu yang lain aku lihat banyak Tan Peng Liang dalam satu ruangan. Mereka saling mengoper-oper kata, menenun kalimat, merancang sebuah gelak yang segera menguap di plafon. Atau gelak itu ikut menghilang bersama kawanan asap yang dihasilkan sebuah piringpanas yang ditiduri tumisan kangkung. Mereka tertawa sampai merah muka. Bir hitam dan kerang hijau rebus biasanya jadi kawan setia. Menemani berbelas-belas Tan Peng Liang.

Tan Peng Liang adalah salah satu karakter dalam novel yang digarap oleh Remy Sylado. Novel itu berjubah Ca Bau Kan. Baru-baru ini aku selesaikan membacanya. Namun latarnya, masalahnya, para tokohnya, seakan hadir di kehidupan nyata. Serasa aku pernah akrab dengan kisah di dalamnya. Seakan, Tan Peng Liang yang hanya sebuah teks, hidup dan bernafas pada hari-hariku. Ca Bau Kan amat sukses menyeretku pada kisahnya. Cau Bau Kan membaui pikiranku dengan nama penulisnya, Remy Sylado.

Dengan mengangkat kehidupan warga Tionghoa di Batavia pada masa prakemerdekaan Indonesia, Remy dengan asiknya meramu kisah cinta antara Tinung dan Tan Peng Liang dengan bumbu sejarah yang medok. Dengan terangbenderang, Remy berhasil menyajikan sebuah kisah yang memikat sekaligus mendidik pembacanya untuk mahfum akan sejarah Batavia prakemerdekaan.

Kisah ini dibuka dengan amat cerdas dan apik. Kalimat pembukanya pun amat provokatif: “Saya ke Jakarta mencari jejak pendosa”. Dikisahkan bagaimana kedatangan seorang Nyonya G. P. A. Dijkhoff bersama cucunya, Anneke dari Belanda. Dari bibir Oma Belanda inilah segulung tirai yang membungkus panggung Ca Bau Kan disingkap.

Selidikpunyaselidik, Nyonya Dijkhoff ini adalah putri dari seorang ibu yang bernama Siti Nurhayati, seorang Ca Bau Kan yang lebih dikenal sebagai Tinung. Tinung remaja umur empatbelas telah diperbinikan oleh Bang Obar, yang mati tak lama setelah meresmikan Tinung sebagai istri kelimanya. Dan karena permainan politik antara keluarga Bang Odar dan keempat istri tuanya, Tinung disingkirkan dengan paksa, berikut dipaksa melepaskan hak-haknya atas warisan dan harta Bang Odar.

Menganggurlah Tinung setelah itu. Tak jelas juntrungannya. Ayah-Ibunya, Uking dan Mpok Jene, menyuruhnya untuk ikut Saodah menjadi cabo di Kalijodo. Dan di Kalijodo pula, kisahnya sebagai Ca Bau Kan menjadi gerbang menuju sebuah dunia kehidupan yang mengharukan, menegangkan, sekaligus menghibur pembaca.

Cau Bau Kan adalah kata dari bahasa Hok-Kian, yang artinya ‘perempuan’. Namun dalam pengertian dulu, Ca Bau Kan – yang akhirnya dilafaz ‘cabo’ – maksudnya adalah perempuan pribumi yang diperbini Tionghoa. Dan Tinung adalah Ca Bau Kan yang akhirnya dipelihara oleh dua orang Tionghoa kaya yang sama-sama bernama Tan Peng Liang. Adalah maksud Nyonya G. P. A. Dijkhoff datang ke Jakarta untuk mencari tahu siapa bapaknya. Tan Peng Liang yang manakah yang menanam benih dalam rahim Tinung yang menjadikan dirinya ada. Karena waktu kecil, Giok Lan - Nyonya G. P. A. Dijkhoff – diadopsi oleh pasangan suami-istri Belanda yang dibawa ke negri Belanda.

Tang Peng Liang yang menjadi lelaki yang amat dicintai Tinung – bukan lagi hubungan antara juragan dengan Ca Bau Kan – adalah seorang yang amat cerdas, berani, nakal, dan penuh perhitungan. Mendadak kedatangannya ke Batavia dari Semarang sebagai pedagang tembakau yang kayaraya, ‘mengganggu’ stabilitas sosial-politik-ekonomi kelompok Kong Koan, sebuah kelompok Tionghoa yang mengurusi kalangannya dalam pemerintahan Hindia Belanda.

Dia – Tan Peng Liang – adalah macan yang keras dan mandiri, yang tak segan-segan membunuh lawan-lawannya dengan berbagai cara. Kontan saja Kong Koan yang merasa diperdaya oleh sepakterjangnya Tan Peng Liang, berulang kali mencari cara untuk menjegal Tan Peng Liang. Namun seekor macan tak bisa dibunuh dengan satudua kali tembak.

Novel ini memuat begitu banyak budaya-budaya Tionghoa pada kurun waktu 1918 – 1951. Bahkan bukan saja budaya Tionghoa, dengan amat jelas dan rinci, Remy berhasil mempertontonkan berbagai budaya lain. Seperti pada satudua bagian di mana dengan amat lincah, Remy seperti ‘memamerkan’ imajinasi dan pengetahuannya akan bahasa Belanda, Betawi, Thailand, Jepang, dan Tionghoa-Semarang. Tiap tokohnya mendapat peran yang amat detil dan khas.

Remy Sylado, yang punya nama pseudonim Alif Danya Munsyi dan nama lahir Japi Tambayong, lewat karyanya ini, juga membedah habis-habisan akan sejarah kota Jakarta, lengkap dengan latar lanskap kota ketika itu. Dengan amat konsisten, semua nama jalan ditulis dengan nama lahirnya. Misalkan Molenvliet sebagai nama tua dari Jl. Hayam Wuruk dan Gajah Mada atau Gang Chaulan untuk Jl. Hasyim Ashari. Ejaan-ejaan kalimat dalam koran Betawi Baroe, koran tempo dulu dalam cerita, juga ditulis dengan ejaan lama. Sebuah ketekunan luarbiasa untuk merampungkan novel berkomposisi tigapuluhlima bab ini.

Membaca habis kisah dalam novel ini, kita akan terus menerus merasa belajar tentang banyak hal. Bahkan judul lagu dan penciptanya tak luput dari detil yang disuguhkan Remy sebagai properti cerita. Tak heran, dari awal hingga selesai, pembaca akan bertemu dengan banyak catatan kaki hingga 141 entri. Mirip dengan buku pengetahuan umum, tapi tidak mengganggu keasikkan pembaca dalam menekuni tiap kata darinya.

Akhirkata, novel yang memperlihatkan andil warga Tionghoa dalam proses menjadi Republik Indinesia yang merdeka, harus dibaca dan dirasakan sendiri. Karena ulasan yang mungkin lebih cocok disebut catatan kekaguman ini tidaklah cukup untuk melukiskan betapa galaknya Remy Sylado sebagai salah satu maestro sastra Indonesia.



Sumber: http://thaniago.blogspot.com/2008/02/membaca-tionghoa.html

Jenis Karangan

1. DESKRIPSI
Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/ keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
Contoh deskripsi berisi fakta:
Hampir semua pelosok Mentawai indah. Di empat kecamatan masih terdapat hutan yang masih perawan. Hutan ini menyimpan ratusan jenis flora dan fauna. Hutan Mentawai juga menyimpan anggrek aneka jenis dan fauna yang hanya terdapat di Mentawai. Siamang kerdil, lutung Mentawai dan beruk Simakobu adalah contoh primata yang menarik untuk bahan penelitian dan objek wisata.
Contoh deskripsi berupa fiksi:
Salju tipis melapis rumput, putih berkilau diseling warna jingga; bayang matahari senja yang memantul. Angin awal musim dingin bertiup menggigilkan, mempermainkan daun-daun sisa musim gugur dan menderaikan bulu-bulu burung berwarna kuning kecoklatan yang sedang meloncat-loncat dari satu ranting ke ranting yang lain.
Topik yang tepat untuk deskripsi misalnya:
Keindahan Bukit Kintamani
Suasa pelaksanaan Promosi Kompetensi Siswa SMK Tingkat Nasional
Keadaan ruang praktik
Keadaan daerah yang dilanda bencana
Langkah menyusun deskripsi:
Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan
Tentukan tujuan
Tentukan aspek-aspek yang akan dideskripsikan dengan melakukan pengamatan
Susunlah aspek-aspek tersebut ke dalam urutan yang baik, apakah urutan lokasi, urutan waktu, atau urutan menurut kepentingan
Kembangkan kerangka menjadi deskripsi


2. NARASI
Secara sederhana narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik.

Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Contoh narasi yang berisi fakta: biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Contoh narasi yang berupa fiksi: novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.
Pola narasi secara sederhana: awal – tengah – akhir Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.

Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.

Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.
Contoh narasi berisi fakta:
Ir. Soekarno

Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama adalah seorang nasionalis. Ia memimpin PNI pada tahun 1928. Soekarno menghabiskan waktunya di penjara dan di tempat pengasingan karena keberaniannya menentang penjajah.

Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949.
.

Contoh narasi fiksi:
Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa.

Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga?

Langkah menyusun narasi (fiksi):
Langkah menyusun narasi (fiksi) melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Cerita dirangkai dengan menggunakan “rumus” 5 W + 1 H. Di mana seting/ lokasi ceritanya, siapa pelaku ceritanya, apa yang akan diceritakan, kapan peristiwa-peristiwa berlangsung, mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan bagaimana cerita itu dipaparkan.



3. EKSPOSISI
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca.

Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik.

Contoh:

Pada dasarnya pekerjaan akuntan mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi, pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan, juga perencanaan sistem informasi akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan informasi keuangan.

Dalam bidang auditing pekerjaan akuntan berupa pemeriksaan laporan keuangan secara objektif untuk menilai kewajaran informasi yang tercantum dalam laporan tersebut.

Topik yang tepat untuk eksposisi, antara lain:
Manfaat kegiatan ekstrakurikuler
Peranan majalah dinding di sekolah
Sekolah kejuruan sebagai penghasil tenaga terampil.
Tidak jarang eksposisi berisi uraian tentang langkah/ cara/ proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.

Contoh paparan proses:

Cara mencangkok tanaman:
1. Siapkan pisau, tali rafia, tanah yang
subur, dan sabut secukupnya.
2. Pilihlah ranting yang tegak, kekar, dan
sehat dengan diameter kira-kira 1,5
sampai 2 cm.
3. Kulit ranting yang akan dicangkok dikerat
dan dikelupas sampai bersih kira-kira
sepanjang 10 cm.
Langkah menyusun eksposisi:
Menentukan topik/ tema
Menetapkan tujuan
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.



4. ARGUMENTASI
Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta sebagai alasan/ bukti.
Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.

Contoh:
Jiwa kepahlawanan harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan karena dengan jiwa kepahlawanan. Pembangunan di negara kita dapat berjalan dengan sukses. Jiwa kepahlawanan akan berkembang menjadi nilai-nilai dan sifat kepribadian yang luhur, berjiwa besar, bertanggung jawab, berdedikasi, loyal, tangguh, dan cinta terhadap sesama. Semua sifat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang.
Tema/ topik yang tepat untuk argumentasi, misalnya:
Disiplin kunci sukses berwirausaha
Teknologi komunikasi harus segera dikuasai
Sekolah Menengah Kejuruan sebagai aset bangsa yang potensial

Langkah menyusun argumentasi:

Menentukan topik/ tema
Menetapkan tujuan
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi


5. PERSUASI
Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu.
Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.

Topik/ tema yang tepat untuk persuasi, misalnya:

Katakan tidak pada NARKOBA
Hemat energi demi generasi mendatang
Hutan sahabat kita
Hidup sehat tanpa rokok
Membaca memperluas cakrawala
Langkah menyusun persuasi:
Menentukan topik/ tema
Merumuskan tujuan
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
Menyusun kerangka karangan
Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi


Sumber: http://sunarno5.wordpress.com/2007/12/06/jenis-karangan/

JENIS-JENIS PUISI



Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.

PUISI LAMA

Ciri-ciri puisi lama:

  • Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
  • Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
  • Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.

Yang termasuk puisi lama adalah:

  • Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
  • Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
  • Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
  • Seloka adalah pantun berkait.
  • Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
  • Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
  • Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.


PUISI BARU

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas:

  • Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
  • Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
  • Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
  • Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
  • Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
  • Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
  • Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik.
Sumber: http://duniapuisi.110mb.com/jenis-jenis%20puisi.htm

Bentuk dan Jenis-jenis Pantun


Pantun terdiri dari banyak jenis dan bentuk. Jenis-jenisnya ialah pantun dua kerat, pantun empat kerat, pantun enam kerat, pantun lapan kerat dan pantun sepuluh kerat.Pantun yang lebih daripada empat kerat disebut juga talibun. Selain lima jenis bentuk ini, terdapat sejenis bentuk lagi yang dinamakan pantun berkait.Bentuk-bentuk pantun pula bermacam-macam. Ada pantun yang berbentuk "nasihat", "adat", "agama", "teka-teki", "jenaka" dan juga ada sesetengahnya berbentuk "peribahasa".

Di samping itu, pantun juga turut mempunyai kedudukan yang istimewa dalam pertumbuhan serta perkembangan puisi Melayu lama. Pantun sebagai jenis puisi Melayu lama yang tertua dan asli amat diminati. Ini terbukti, pantun digunakan secara meluas dalam kegiatan-kegiatan hidup harian dan seni budaya masyarakat Melayu lama, seperti dalam acara permainan, hiburan, majlis keramaian, adat istiadat atau upacara. Justru itu, pantun pantun dari segi isi atau temanya terdapat beberapa jenis. Antaranya yang penting tentang teka-teki, jenaka, kasih sayang, nasihat, budi, nasib, perantau, adat, kepahlawanan, peribahasa, kias ibarat dan agama. Meskipun begitu, penentuan jenis-jenis isi atau tema tersebut bukanlah mutlak. Ini kerana dalam setiap jenis isi pantun itu, lazimnya terdapat juga isi atau persoalan lain. Penentuannya lebih dilihat pada isi yang menjadi latar dan dasar perkembangannya dengan isi atau persoalan lain yang berhubungan.

Pantun yang isinya mengemukakan tentang "nasihat", "adat" dan "agama" pada umumnya adalah mudah dikenali serta difahami. Pantun "nasihat" misalnya, lebih jelas bersifat mengajar atau memberi nasihat ke arah melakukan sesuatu yang baik dan meninggalkan yang buruk.Walaupun demikian, isi tentang "adat" dan "agama" tidak kurang pula yang lebih serius serta mendalam persoalan isinya. Umapamanya, persoalan adat yang berkaitan dengan norma-norma adat, peraturan atau undang-undang dan persoalan agama yang berkaitan dengan Keesaan Allah dan balasan hari kemudian.

Pantun jenis "peribahasa" juga mudah dikenali, iaitu melalui penyampaian isinya menggunakan peribahasa-peribahasa yang begitu jelas bentuk serta susunannya. Bagi pantun "kias dan ibarat" pula, sesuai dengan namanya maka setiap isi yang disampaikan atau dikemukakan itu adalah bersifat kiasan, ibarat atau perbandingan. Dengan demikian, pernyataan isinya selalu ditemui dalam bentuk peribahasa; tetapi gambaran pernyataannya lebih halus, luas dan mendalam. Pada pantun "teka-teki" yang memerlukan jawapan adalah merupakan satu daripada alat untuk menggerakkan cara berfikir secara spontan dam membina kemahiran berfikir dengan tepat.

Pantun "jenaka" yang unsur kejenakaan atau kelucuannya terhasil daripada gambaran keanehan dan keganjilan perlakuan itu, terdapat unsur-unsur pengajaran, nasihat dan sindirannya di dalamnya.

Rumus-rumus Trigonometri

PENJUMLAHAN DUA SUDUT (a + b)

sin(a + b) = sin a cos b + cos a sin b
cos(a + b) = cos a cos b - sin a sin b
tg(a + b ) = tg a + tg b
1 - tg2a


SELISIH DUA SUDUT
(a - b)

sin(a - b) = sin a cos b - cos a sin b
cos(a - b) = cos a cos b + sin a sin b
tg(a - b ) = tg a - tg b
1 + tg2a


SUDUT RANGKAP

sin 2
a = 2 sin a cos a
cos 2
a = cos2a - sin2 a
= 2 cos2
a - 1
= 1 - 2 sin2
a
tg 2
a = 2 tg 2a
1 - tg2
a
sin
a cos a = ½ sin 2a
cos2
a = ½(1 + cos 2a)
sin2
a = ½ (1 - cos 2a)

Secara umum :


sin n
a = 2 sin ½na cos ½na
cos n
a = cos2 ½na - 1
= 2 cos2 ½n
a - 1
= 1 - 2 sin2 ½n
a
tg n
a = 2 tg ½na
1 - tg2 ½n
a

JUMLAH SELISIH DUA FUNGSI YANG SENAMA


BENTUK PENJUMLAHAN
® PERKALIAN

sin
a + sin b = 2 sin a + b cos a - b
2 2
sin
a - sin b = 2 cos a + b sin a - b
2 2
cos
a + cos b = 2 cos a + b cos a - b
2 2
cos
a + cos b = - 2 sin a + b sin a - b
2 2

BENTUK PERKALIAN
® PENJUMLAHAN

2 sin
a cos b = sin (a + b) + sin (a - b)
2 cos
a sin b = sin (a + b) - sin (a - b)
2 cos
a cos b = cos (a + b) + cos (a - b)
- 2 sin a cos b = cos (a + b) - sin (a - b)

PENJUMLAHAN FUNGSI YANG BERBEDA

Bentuk a cos x + b sin x

Merubah bentuk a cos x + b sin x ke dalam bentuk K cos (x -
a)


a cos x + b sin x = K cos (x-
a)

dengan :
K = Öa2 + b2 dan tg a = b/a Þ a = ... ?

Kuadran dari a ditentukan oleh kombinasi tanda a dan b sebagai berikut


I
II
III
IV
a
+
-
-
+
b
+
+
-
-

keterangan :
a = koefisien cos x
b = koefisien sin x



Pantun Melayu Lama


Sutan Muda dari Lampung,
Memikul cangkul dengan bajak,
Singgah minum di lepau nasi;
Sudah serkah tempat bergantung,
Telah patah tempat berpijak,
Budi yang baik tetap di hati

Banyak orang di Bukit Cina,
Daun nanas serak-serakan,
Burung tempua di pohon saga;
Zaman sekarang ringgit berguna,
Emas perak jadi taruhan,
Budi baik terpinggir juga.

Padi bukit padi huma,
Taruh mari di dalam peti,
Dibawa orang ke Tanjung Jati;
Budimu tuan saya terima,
Sudah terlekat di dalam hati,
Terpahat kukuh hingga ke mati.

Buah lada lebat di pangkal,
Gugur daun dengan buahnya,
Dibawa dagang pergi seberang;
Sungguh ringgit penuh sekapal,
Budi tiada apa gunanya,
Nama pun tidak disebut orang.

Dari Johor ke Majapahit,
Singgah berlabuh di Pulau Bangka,
Ambil muatan gula dan rempah;
Jika masyhur budi yang baik,
Jangan pula mengada-ngada,
Orang keliling jadi menyampah.

(Sumber: Hamidah Adam, Batu Pahat, Johor, 2001)

Sastra Melayu

Sastra Melayu Klasik bermula pada abad ke-16 Masehi. Semenjak itu sampai sekarang gaya bahasanya tidak banyak berubah.

Dokumen pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu klasik adalah sepucuk surat dari raja Ternate, Sultan Abu Hayat kepada raja João III di Portugal dan bertarikhkan tahun 1521 Masehi.

Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

1. 1. 1. Gurindam Lama

contoh :

Pabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang
Dengan ibu hendaknya hormat
Supaya badan dapat selamat

1. 1. 2. Gurindam Dua Belas

Kumpulan gurindam yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari Kepulauan Riau. Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.

1. 2. Hikayat

Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama.

1. 3. Karmina

Karmina atau dikenal dengan nama pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedia adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.

Contoh

Sudah gaharu cendana pula Sudah tahu masih bertanya pula

1. 4. Pantun

Pantun merupakan sejenis puisi yang terdiri atas 4 baris bersajak ab-ab atau aa-aa. Dua baris pertama merupakan sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Contoh Pantun

Kayu cendana diatas batu Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

1. 5. Seloka

Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

contoh seloka 4 baris:

anak pak dolah makan lepat,

makan lepat sambil melompat,

nak hantar kad raya dah tak sempat,

pakai sms pun ok wat ?

contoh seloka lebih dari 4 baris:
Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera dihutan disusui

1. 6. Syair

Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud)

1. 7. Talibun

Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya.

Contoh Talibun :

Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu

1. 8. Lain-lain


Sumber: http://wapedia.mobi/id/Sastra_Melayu

Kumpulan Puisi W. S. Rendra

Surat Cinta

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain...
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku

Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !


Rumpun Alang-alang

Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang
Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang
Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal

Gelap dan bergoyang ia
dan ia pun berbunga dosa
Engkau tetap yang punya
tapi alang-alang tumbuh di dada


Makna sebuah titipan


Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,


kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"



SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.


======
Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998 dan
dibacakan Rendra di DPR pada tanggal 18 Mei 1998




SAJAK SEBATANG LISONG

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
????????..

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian

bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
???????????

kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

RENDRA( itb bandung - 19 agustus 1978 )



Perempuan yang Tergusur

Hujan lebat turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon

Aku terjaga dan termangu
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempupan yang tergusur!


Tanpa pilihan
ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu.
Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.
Umur enam belas kamu dibawa ke kota
oleh sopir taxi yang mengawinimu.
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo.

Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya.
Bila kamu ragu dan murung,
lalu kurang setoran kamu berikan,
ia memukul kamu babak belur.
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara
ketika ikut demontrasi politik
sebagai demonstran bayaran.

Sebagai janda yang pelacur
kamu tinggal di gubuk tepi kali
dibatas kota
Gubernur dan para anggota DPRD
menggolongkanmu sebagai tikus got
yang mengganggu peradaban.
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.
Jadi kamu digusur.

Didalam hujuan lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan
sambhil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?

Impian dan usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak diseberang highway yang bebahaya
yang tak mungkin kamu seberangi.

Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu.
Tetapi aku memihak kepadamu.
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin
di jidatmu?

O,cendawan peradaban!
O, teka-teki keadilan!

Waktu berjalan satu arah saja.
Tetapi ia bukan garis lurus.
Ia penuh kelokan yang mengejutkan,
gunung dan jurang yang mengecilkan hati,
Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati,
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,
ialah kedudukan kaum terhina.

Tapi aku kagum pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.

Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.

Cipayung Jaya
3 Desember 2003
Rendra


Sumber: www.bluefame.com/lofiversion/index.php/t8563.html